Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Ketika Hamba dan Tuan Saling Berhadapan
Posted by
Admin
Labels:
Artikel
Apabila wujud makhluk 'bersatu' dengan wujud Khaliq maka wujud keduanya tidak lagi dapat dipisahkan. Pada hakikatnya mereka adalah Wujud Yang Satu jua.
Apabila semua hubungan dengan dunia telah diputus oleh seorang hamba yang telah 'bersatu' dengan Allah, maka ia akan menerima kekudusan atau kesucian yang kekal, di mana tidak ada cacat dan cela. Mereka akan menjadi orang yang dipilih oleh Tuhan, seperti yang ada dalam firman-Nya, "Mereka itu adalah penghuni surga dan mereka kekal di dalamnya" (Al-Araf. 42).
Tidak seorangpun dapat menjadi penghuni surga, melainkan sesuai dengan syarat-syaratnya. Kemudian Allah menyebutkan siapa sebenarnya mereka, sesuai dengan bunyi firman-Nya:
“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh" (Al-Araf.. 42).
Syarat itu memang terasa berat bagi orang yang jauh dari Tuhannya, tetapi sangat ringan bagi mereka yang sudah Tuhan Penciptanya melalui hakikat pengenalan, yakni makrifat. Walau demikian, Allah Swt. Maha Pengasih. Dia tidak akan membebani hamba-Nya dengan kewajiban, melainkan sekadar yang mampu dilakukannya. Kewajiban yang diberikan Allah itu berbeda-beda untuk setiap manusia, sesuai dengan pakaian makrifatnya masing-masing.
Allah berfirman:
"Kami tidak memikulkan kewajiban kepada seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya" (Al-Araf. 42).
Dalam memikul tugas dan kewajibannya terhadap Tuhan Sang Pencipta, mereka harus mengimbanginya dengan banyak bersabar dan berhati teguh, baik dalam keadaan sadar atau tidak, namun yang pasti, Allah selalu bersama mereka yang bersabar.
Friday, May 21, 2010 | 0 Comments
Wujud Diri dan Sirrus-sirr
Posted by
Admin
Labels:
Artikel
Wujud diri yang paling halus ialah perasaan ruhani yang muncul di dalam batin yang disebut dengan Sirrus-sirr, yakni rahasia dari rahasia. Hal ini dapat dirasakan oleh siapa pun yang telah diberi karunia oleh Allah. Nabi Musa a.s. meninggalkan keluarganya ketika beliau melihat api di lereng bukit Thursina. Apakah yang beliau lihat sebenarnya? Mata kepalanya melihat api, yakni Naar, tetapi mata hatinya melihat cahaya, yakni Nur. Mata kepalanya melihat makhluk (khalqan), tetapi mata hatinya metihat Al-Haqq (Haqqan) sesuai dengan firman Allah Swt.:
"Dia berkata kepada keluarganya, 'Tunggulah di sini! Sesungguhnya aku melihat api di sana!" (Thaha: 10).
Api itu menarik perhatian Nabi Musa a.s. dan hatinya terkesiap. Karena itu beliau pergi ke tempat api itu berada dan berusaha mengambil percikan apinya. Beliau memerintahkan anak dan isterinya supaya menunggu di tempatnya hingga beliau kembali.
Sebenarnya panggilan ruhani telah menjemputnya dari tempat yang tinggi (lereng bukit Thursina) dan menarik Nabi Musa a.s. untuk datang ke tempat itu, sehingga beliau sanggup meningalkan anak isterinya di tempat yang gelap-gulita di padang pasir yang luas. Itulah takdir yang sudah ditentukan Tuhan untuk menarik ahlullah ke tempat yang sudah ditentukan dan pada masa yang telah ditentukan pula.
Wahai hukum! Tetaplah di tempatmu. Wahai ilmu! Majulah dengan nama Allah. Wahai diri yang rendah! Tetaplah di tempatmu. Wahai hati dan sirr, marilah ke mari dan beranjaklah.
Alangkah ruginya mereka yang tidak memahami dan tidak mencintai peristiwa ini, yang tidak percaya karena tidak mengalaminya. Alangkah ruginya mereka! Alangkah jauhnya mereka dari Al-Haqq! Alangkah muflisnya mereka!
Allah berfirman:
“………semoga Aku dapat membawa suatu berita kepadamu!" (Thaha: 1 0).
Coba renungkanlah kembali firman-Nya itu, bila yang tercantum pada firman itu adalah, "Tunggulah di sini! semoga aku dapat membawa suatu berita kepadamu!". Meskipun lisan Musa a.s. mengatakan kata-kata itu dengan maksud yang zahir, yaitu untuk mendapatkan sepercik api untuk menghangatkan badan di tengah malam yang dingin di padang pasir yang menghampar. Namun hati dan sirr menariknya kepada takdir yang lain Beliau diundang untuk menghadap Allah dan menerima berita bahwa beliau telah diangkat menjadi Nabi dan Rasul bagi kaumnya, yaitu Bani Israel.
Beliau sebenarnya telah tersesat di tengah padang pasir itu. Tanda ke tempat tujuannya sudah tidak tampak lagi. Naqibun-Nuqabak, yaitu Malaikat Jibril a.s. telah berada di hadapan Musa a.s., padahal sebelumnya Malaikat itu tidak pernah berhadapan secara zahir di hadapannya. Malaikat itu berkata kepada Musa a.s., "Engkau tentu ingin agar engkau tidak pernah dijadikan sebagai Nabi, tetapi takdir Allah telah menjadikanmu. Apakah engkau mengetahui mengapa engkau dipilih Allah untuk menjadi Nabi?"
Friday, May 21, 2010 | 0 Comments
Haqq dan Bathil Selalu Bertentangan
Posted by
Admin
Labels:
Artikel
Apabila datang yang haqq maka yang bathil akan lenyap. Dan sempurnalah peringkat Wilayah (Kewalian).
Huruf yang keempat ialah huruf Fa' yang melambangkan fana', yaitu penghapusan dan pengosongan diri dari segala rupa dan bentuk. Kekosongan inilah yang dituntut ada dalam diri manusia. Tegasnya, kebathilan (kepalsuan) akan musnah bila sifat-sifat Ketuhanan datang ke dalam diri seseorang. Jika sifat dan pikiran tentang dunia yang sangat banyak itu lenyap dari hati seseorang, keesaan dan kesatuan (dengan Allah) akan menggantikannya.
Sebenarnya Yang Haqq itu selalu ada. la tidak hilang dan binasa, yang terjadi ialah Si Salik itu menyadari dan merasakan perasaan 'bersatu' dengan Tuhannya. Dengan perasaan bersatu itu, si Salik menerima keridhaan Allah. Wujud yang sementara (insan) menjumpai wujudnya yang sebenarnya dengan menyadari rahasia yang qadim itu. Firman Allah:
"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah" (Al-Qasas: 88).
Untuk menyadari Yang Haqq diperlukan keridhaan dan izin Allah. Apabila kita berbuat sesuatu karena Allah dan perbuatan itu sesuai dengan keridhaan dan izin-Nya, kita akan dekat dengan Dia. Kemudian kita akan merasakan semuanya lenyap, kecuali rasa 'bersatu' antara Yang Ridha (Allah) dengan yang diridhai (insan), karena jika Allah tidak mengizinkan sesuatu terjadi, walaupun manusia menghendakinya, apa yang diinginkan manusia itu tidak akan pernah terlaksana. Hal itu dapat dibuktikan melalui firman Allah Swt. yang berbunyi:
"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Dekat! " (Al-Baqarah. 186).
Jelasnya, Allah Dekat kepadanya karena taqarrub hamba itu kepada Allah Swt. Dan taqarrub itu harus dilakukan dengan mengenyampingkan 'ghairullah', yakni yang selain Allah, dalam batinnya.
Jika seseorang bertindak dan hidup untuk ghairullah, berarti ia menyekutukan Allah. Ia meletakkan ghairullah di tempat Allah. Perbuatan ini adalah dosa yang paling besar, yang tidak diampuni Allah karena ia telah berbuat syirik atau menyekutukan Allah dengan ghairullah. Orang yang berbuat syirik akan binasa.
Apabila seseorang lenyap, yakni dalam keadaan fana', maka ia akan sampai kepada peringkat 'bersatu' dengan Allah.
Firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman- taman dan sungai-sungai. Di tempat yang disenanginya, yakni di sisi Tuhan Yang Kuasa" (Al-Qamar. 54-55).
Tempat itu adalah tempat Hakikat yang sebenarnya, Hakikat bagi segala hakikat, tempat kesatuan dan keesaan dengan Allah Swt. Itulah tempat makhluk yang dinamakan 'hamba' untuk bertatap muka dengan Khaliq yang disembahnya sebagai 'Tuan', tempat yang dikhususkan bagi para Nabi, para Waliullah, dan para kekasih Allah. Allah beserta orang yang benar.
Huruf yang keempat ialah huruf Fa' yang melambangkan fana', yaitu penghapusan dan pengosongan diri dari segala rupa dan bentuk. Kekosongan inilah yang dituntut ada dalam diri manusia. Tegasnya, kebathilan (kepalsuan) akan musnah bila sifat-sifat Ketuhanan datang ke dalam diri seseorang. Jika sifat dan pikiran tentang dunia yang sangat banyak itu lenyap dari hati seseorang, keesaan dan kesatuan (dengan Allah) akan menggantikannya.
Sebenarnya Yang Haqq itu selalu ada. la tidak hilang dan binasa, yang terjadi ialah Si Salik itu menyadari dan merasakan perasaan 'bersatu' dengan Tuhannya. Dengan perasaan bersatu itu, si Salik menerima keridhaan Allah. Wujud yang sementara (insan) menjumpai wujudnya yang sebenarnya dengan menyadari rahasia yang qadim itu. Firman Allah:
"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah" (Al-Qasas: 88).
Untuk menyadari Yang Haqq diperlukan keridhaan dan izin Allah. Apabila kita berbuat sesuatu karena Allah dan perbuatan itu sesuai dengan keridhaan dan izin-Nya, kita akan dekat dengan Dia. Kemudian kita akan merasakan semuanya lenyap, kecuali rasa 'bersatu' antara Yang Ridha (Allah) dengan yang diridhai (insan), karena jika Allah tidak mengizinkan sesuatu terjadi, walaupun manusia menghendakinya, apa yang diinginkan manusia itu tidak akan pernah terlaksana. Hal itu dapat dibuktikan melalui firman Allah Swt. yang berbunyi:
"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Dekat! " (Al-Baqarah. 186).
Jelasnya, Allah Dekat kepadanya karena taqarrub hamba itu kepada Allah Swt. Dan taqarrub itu harus dilakukan dengan mengenyampingkan 'ghairullah', yakni yang selain Allah, dalam batinnya.
Jika seseorang bertindak dan hidup untuk ghairullah, berarti ia menyekutukan Allah. Ia meletakkan ghairullah di tempat Allah. Perbuatan ini adalah dosa yang paling besar, yang tidak diampuni Allah karena ia telah berbuat syirik atau menyekutukan Allah dengan ghairullah. Orang yang berbuat syirik akan binasa.
Apabila seseorang lenyap, yakni dalam keadaan fana', maka ia akan sampai kepada peringkat 'bersatu' dengan Allah.
Firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman- taman dan sungai-sungai. Di tempat yang disenanginya, yakni di sisi Tuhan Yang Kuasa" (Al-Qamar. 54-55).
Tempat itu adalah tempat Hakikat yang sebenarnya, Hakikat bagi segala hakikat, tempat kesatuan dan keesaan dengan Allah Swt. Itulah tempat makhluk yang dinamakan 'hamba' untuk bertatap muka dengan Khaliq yang disembahnya sebagai 'Tuan', tempat yang dikhususkan bagi para Nabi, para Waliullah, dan para kekasih Allah. Allah beserta orang yang benar.
Friday, May 21, 2010 | 0 Comments
Gemetar Karena Allah
Posted by
Admin
Labels:
Artikel
“Gemetar” dalam surat Al-Anfal ayat 2 tersebut berarti kagum, takut, dan cinta kepada Allah. Dengan mengingat dan menyebut nama-nama Allah itu, hati mereka akan terjaga dari tidurnya yang lelap. Mereka dikejutkan oleh sebutan nama-nama Allah Yang Maha Suci dan Maha Agung.
Ketika itu pula hati akan menjadi bersih, suci, dan bersinar. Semua debu angan-angan yang mengotori permukaan hati akan terkikis habis. Kini hati itu sunyi dari segala yang mengganggunya. Bahkan berbagai rahasia dari alam gaib menembus masuk ke dalam hati dan terbayang olehnya menelusuri pintu ilham yang dibuka oleh cahaya di permukaan hati itu. Hanya dalam keadaan seperti itu hati akan menangkap karunia halus yang dilimpahkan Allah kepadanya, yakni ketika orang yang berilmu zahir selalu sibuk menggali dan menimbang ilmunya dengan akal dan pikirannya, sedangkan ahli kebenaran yang telah mengenal hakikat terus sibuk membersihkan dan mengilaukan hati dengan berzikir sebanyak-banyaknya dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Kedamaian dan ketenteraman pusat rahasia hati dapat dicapai dengan membersihkan hati dari semua ‘ghairullah' (yang selain Allah) dan mempersiapkan hatinya agar dapat 'memandang Allah' dan hanya menerima Allah yang akan masuk ke dalam hatinya apabila hati itu telah dihiasi dengan rasa cinta terhadap Allah.
Cara untuk membersihkan hati itu ialah dengan selalu berzikir dalam hati kepada Allah dan membaca Laailaha illallah.
Apabila hati dan pusat rahasia yang ada di dalamnya telah tenteram maka sempurnalah sudah tingkatan kedua yang dilambangkan dengan huruf Shad.
Huruf ketiga ialah Wau. Wau bermakna Wilayah (Kewalian), yaitu keadaan kudus dan hening yang ada pada jiwa para kekasih Allah dan Waliullah. Keadaan ini tergantung pada kesucian batin seseorang. Allah berfirman tentang Waliullah, seperti berikut:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa khwatir terhadap diri mereka dan tidak merasa bersedih hati" (Yunus: 62).
Firman-Nya lagi:
"Mereka mendapat berita gembira dalam kehidupan di dunia dan di akhirat" (Yunus: 64).
Orang yang sampai ke tahap kudus dan suci ini, mendapat kesadaran, rasa cinta, dan rasa 'bersatu' sepenuhnya dengan Allah. Allah akan menghiasinya dengan akhlak yang mulia dan tingkah laku yang terbaik. Ini adalah anugerah Allah kepada orang yang suci.
Pada tingkatan ini si Salik akan melepaskan sifat dan perangainya yang lebih mengedepankan masalah-masalah keduniaan yang fana' ini. Kemudian Allah akan memberinya pakaian yang mengandung sifat-sifat atau akhlak Ketuhanan. Apabila Allah telah mencintai seorang hamba-Nya, niscaya segala kehendak dan masyiah-Nya akan ditakdirkan kepada orang itu, sehingga ia dapat melihat dengan mata Allah, mendengar dengan telinga Allah, dan berkata-kata dengan lisan Allah, dan bertindak serta berkuasa dengan tindakan dan kekuasaan Allah.' Demikianlah perumpamaan betapa dekatnya seorang Waliullah itu dengan Tuhannya. Perasaan ini hanya dapat dialami oleh para Waliullah dan para kekasih Allah yang telah sampai pada tahap rasa 'bersatu dan berpadu' dengan Allah. Mereka benar-benar merasakan kedekatan yang alami tersebut dalam sanubari mereka.
Bersihkan dirimu dari ghairullah dan itsbat-kan Allah saja dalam dirimu, karena:
"Yang haq telah datang, maka hancurlah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil itu pasti hancur" (AI-Isra': 8 1).
Ketika itu pula hati akan menjadi bersih, suci, dan bersinar. Semua debu angan-angan yang mengotori permukaan hati akan terkikis habis. Kini hati itu sunyi dari segala yang mengganggunya. Bahkan berbagai rahasia dari alam gaib menembus masuk ke dalam hati dan terbayang olehnya menelusuri pintu ilham yang dibuka oleh cahaya di permukaan hati itu. Hanya dalam keadaan seperti itu hati akan menangkap karunia halus yang dilimpahkan Allah kepadanya, yakni ketika orang yang berilmu zahir selalu sibuk menggali dan menimbang ilmunya dengan akal dan pikirannya, sedangkan ahli kebenaran yang telah mengenal hakikat terus sibuk membersihkan dan mengilaukan hati dengan berzikir sebanyak-banyaknya dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Kedamaian dan ketenteraman pusat rahasia hati dapat dicapai dengan membersihkan hati dari semua ‘ghairullah' (yang selain Allah) dan mempersiapkan hatinya agar dapat 'memandang Allah' dan hanya menerima Allah yang akan masuk ke dalam hatinya apabila hati itu telah dihiasi dengan rasa cinta terhadap Allah.
Cara untuk membersihkan hati itu ialah dengan selalu berzikir dalam hati kepada Allah dan membaca Laailaha illallah.
Apabila hati dan pusat rahasia yang ada di dalamnya telah tenteram maka sempurnalah sudah tingkatan kedua yang dilambangkan dengan huruf Shad.
Huruf ketiga ialah Wau. Wau bermakna Wilayah (Kewalian), yaitu keadaan kudus dan hening yang ada pada jiwa para kekasih Allah dan Waliullah. Keadaan ini tergantung pada kesucian batin seseorang. Allah berfirman tentang Waliullah, seperti berikut:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa khwatir terhadap diri mereka dan tidak merasa bersedih hati" (Yunus: 62).
Firman-Nya lagi:
"Mereka mendapat berita gembira dalam kehidupan di dunia dan di akhirat" (Yunus: 64).
Orang yang sampai ke tahap kudus dan suci ini, mendapat kesadaran, rasa cinta, dan rasa 'bersatu' sepenuhnya dengan Allah. Allah akan menghiasinya dengan akhlak yang mulia dan tingkah laku yang terbaik. Ini adalah anugerah Allah kepada orang yang suci.
Pada tingkatan ini si Salik akan melepaskan sifat dan perangainya yang lebih mengedepankan masalah-masalah keduniaan yang fana' ini. Kemudian Allah akan memberinya pakaian yang mengandung sifat-sifat atau akhlak Ketuhanan. Apabila Allah telah mencintai seorang hamba-Nya, niscaya segala kehendak dan masyiah-Nya akan ditakdirkan kepada orang itu, sehingga ia dapat melihat dengan mata Allah, mendengar dengan telinga Allah, dan berkata-kata dengan lisan Allah, dan bertindak serta berkuasa dengan tindakan dan kekuasaan Allah.' Demikianlah perumpamaan betapa dekatnya seorang Waliullah itu dengan Tuhannya. Perasaan ini hanya dapat dialami oleh para Waliullah dan para kekasih Allah yang telah sampai pada tahap rasa 'bersatu dan berpadu' dengan Allah. Mereka benar-benar merasakan kedekatan yang alami tersebut dalam sanubari mereka.
Bersihkan dirimu dari ghairullah dan itsbat-kan Allah saja dalam dirimu, karena:
"Yang haq telah datang, maka hancurlah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil itu pasti hancur" (AI-Isra': 8 1).
Friday, May 21, 2010 | 0 Comments
Taubat Ruhani
Posted by
Admin
Labels:
Artikel
Taubat ruhani atau taubat batin peranannya ada di dalam hati. Peranannya adalah membersihkan dan mensucikan hati dari keinginan-keinginan duniawi yang diimbangi dengan kesungguhan serta penuh harap untuk mencapai dan mengenal Allah.
Taubat ialah keadaan di mana manusia menyadari kesalahan atau dosa yang telah diperbuat dan mulai menyadari perbuatan yang baik dan benar, sehingga muncul perasaan menyesal, yang kemudian membangkitkan dirinya untuk meninggalkan dosa-dosa itu dan berjuang untuk mendapat kebaikan dan kebenaran.
Peringkat kedua ialah keadaan damai dan sentosa. Ini berarti Shafa' yang dilambangkan dengan huruf Shad. Tingkatan ini juga terbagi menjadi dua langkah yang perlu dilaksanakan. Pertama, langkah menuju pembersihan hati. Kedua, langkah menuju pusat rahasia (secret centre).
Hati yang damai dan tenteram adalah hati yang bebas dari keresahan dan perasaan gundah-gulana. Perasaan negatif ini disebabkan oleh beban hidup yang bersifat kebendaan, seperti makan, minum, tidur, perbincangan yang sia-sia, dan sebagainya.
Beban-beban duniawi itu seperti tarikan gravitasi bumi, menarik hati ke bawah dan mematikan tindakan untuk membebaskan hati. Selain itu, ada pula masalah-masalah duniawi yang mengikat atau mengekang hati, seperti hawa nafsu, harta benda yang kita miliki, uang, dan kecintaan kepada keluarga. Semua itu dapat mengikat hati ke bumi dan menghalanginya terbang ke langit tinggi.
Zikrullah (mengingat Allah) atau berzikir kepada Allah Swt. adalah cara untuk memerdekakan dan membersihkan hati. Pada tingkat Permulaan, zikir dibacakan secara zahir, yaitu dengan membaca berkali-kali nama-nama Allah dengan suara keras didengar oleh diri sendiri dan orang lain. Ketika zikir telah menjadi kebiasaan dan dilakukan secara berkesinambungan, itu pertanda bahwa zikrullah yang dilakukannya telah menyerap ke dalam hati. Setelah yakin bahwa zikir yang dinyanyikannya dengan suara keras sudah cukup, maka ia boleh melantunkan zikir itu di dalam hati, yakni dalam suasana hening tanpa suara. Firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hatinya dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhannyalah mereka bertawakal" (Al Anfal: 2).
Taubat ialah keadaan di mana manusia menyadari kesalahan atau dosa yang telah diperbuat dan mulai menyadari perbuatan yang baik dan benar, sehingga muncul perasaan menyesal, yang kemudian membangkitkan dirinya untuk meninggalkan dosa-dosa itu dan berjuang untuk mendapat kebaikan dan kebenaran.
Peringkat kedua ialah keadaan damai dan sentosa. Ini berarti Shafa' yang dilambangkan dengan huruf Shad. Tingkatan ini juga terbagi menjadi dua langkah yang perlu dilaksanakan. Pertama, langkah menuju pembersihan hati. Kedua, langkah menuju pusat rahasia (secret centre).
Hati yang damai dan tenteram adalah hati yang bebas dari keresahan dan perasaan gundah-gulana. Perasaan negatif ini disebabkan oleh beban hidup yang bersifat kebendaan, seperti makan, minum, tidur, perbincangan yang sia-sia, dan sebagainya.
Beban-beban duniawi itu seperti tarikan gravitasi bumi, menarik hati ke bawah dan mematikan tindakan untuk membebaskan hati. Selain itu, ada pula masalah-masalah duniawi yang mengikat atau mengekang hati, seperti hawa nafsu, harta benda yang kita miliki, uang, dan kecintaan kepada keluarga. Semua itu dapat mengikat hati ke bumi dan menghalanginya terbang ke langit tinggi.
Zikrullah (mengingat Allah) atau berzikir kepada Allah Swt. adalah cara untuk memerdekakan dan membersihkan hati. Pada tingkat Permulaan, zikir dibacakan secara zahir, yaitu dengan membaca berkali-kali nama-nama Allah dengan suara keras didengar oleh diri sendiri dan orang lain. Ketika zikir telah menjadi kebiasaan dan dilakukan secara berkesinambungan, itu pertanda bahwa zikrullah yang dilakukannya telah menyerap ke dalam hati. Setelah yakin bahwa zikir yang dinyanyikannya dengan suara keras sudah cukup, maka ia boleh melantunkan zikir itu di dalam hati, yakni dalam suasana hening tanpa suara. Firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hatinya dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhannyalah mereka bertawakal" (Al Anfal: 2).
Friday, May 21, 2010 | 0 Comments
TASAWUF
Posted by
Admin
Labels:
Artikel
Istilah Sufi diambil dari bahasa Arab yaitu saf yang berarti suci bersih. Sebutan Sufi diberi kepada mereka yang hati dan jiwanya suci bersih dan disinari dengan cahaya hikmah, tauhid, dan 'kesatuan’ dengan Allah. Itulah hal yang menyebabkan seseorang disebut sebagai Sufi. Penyebab lainnya yang membuat mereka dianugerahi gelar Sufi ialah karena mereka dapat berhubungan batin dengan para sahabat Nabi yang diberi gelar "sahabat-sahabat yang berpakaian bulu kambing biri-biri."
Gelar itu diberikan mungkin juga karena mereka berpakaian kasar yang dibuat dari bulu domba (dalam bahasa Arab disebut Suf) ketika mereka berada di peringkat awal suluk (perjalanan menuju Allah dalam din). Dan pakaian yang rnereka kenakan sepanjang hayat itu bertambal di sana-sini.
Pada keadaan zahirnya, mereka tampak miskin, papa, dan suka merendah diri. Begitu pula dengan kehidupan keseharian mereka di dunia kurang makan, kurang minum, kurang tidur, bahkan segala kesenangan dan kemewahan dunia mereka tinggalkan. Cara hidup mereka sehari-hari sangat wara'. Hikmah kebijaksanaan mereka terpantul pada sifat mereka yang lemah lembut, penuh santun, dan berakhlak mulia. Ini yang menjadi daya tarik orang-orang yang ingin mengetahui keadaan kaum Sufi.
Pendek kata, mereka menjadi contoh bagi manusia. Mereka mematuhi syari'at Islam. Pada sisi Allah, mereka adalah rnanusia yang berada di peringkat pertama. Pada pandangan orang- orang Salik (orang- orang yang sedang dalam perjalanan menuju Allah), mereka tampak indah meskipun pada keadaan lahirnya mereka tampak buruk. Mereka berada di peringkat Tauhid, ‘bersatu dengan Allah’. Dalam peringkat 'bersemadi dengan Allah’, segala gerak-geriknya, kata-katanya, dan perbuatannya, tunduk di bawah perintah dan kehendak Allah Maha Agung.
Gelar itu diberikan mungkin juga karena mereka berpakaian kasar yang dibuat dari bulu domba (dalam bahasa Arab disebut Suf) ketika mereka berada di peringkat awal suluk (perjalanan menuju Allah dalam din). Dan pakaian yang rnereka kenakan sepanjang hayat itu bertambal di sana-sini.
Pada keadaan zahirnya, mereka tampak miskin, papa, dan suka merendah diri. Begitu pula dengan kehidupan keseharian mereka di dunia kurang makan, kurang minum, kurang tidur, bahkan segala kesenangan dan kemewahan dunia mereka tinggalkan. Cara hidup mereka sehari-hari sangat wara'. Hikmah kebijaksanaan mereka terpantul pada sifat mereka yang lemah lembut, penuh santun, dan berakhlak mulia. Ini yang menjadi daya tarik orang-orang yang ingin mengetahui keadaan kaum Sufi.
Pendek kata, mereka menjadi contoh bagi manusia. Mereka mematuhi syari'at Islam. Pada sisi Allah, mereka adalah rnanusia yang berada di peringkat pertama. Pada pandangan orang- orang Salik (orang- orang yang sedang dalam perjalanan menuju Allah), mereka tampak indah meskipun pada keadaan lahirnya mereka tampak buruk. Mereka berada di peringkat Tauhid, ‘bersatu dengan Allah’. Dalam peringkat 'bersemadi dengan Allah’, segala gerak-geriknya, kata-katanya, dan perbuatannya, tunduk di bawah perintah dan kehendak Allah Maha Agung.
Tasawuf Menurut Pengertian Bahasa Arab
Dalam bahasa Arab istilah tasawuf terdiri atas empat huruf yaitu Ta', Shad, Wau, dan Fa'. Huruf Ta' berarti Taubat. Taubat adalah langkah pertama dalam perjalanan rnenuju Allah. Taubat ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu zahir dan batin. Langkah zahir dalam bertaubat dilakukan melalui perkataan, perbuatan, dan perasaan, yaitu dengan cara membersihkan diri dari dosa dan noda, lebih banyak mentaati perintah Allah, dan berbuat dan berniat sesuai dengan ketentuan Allah Swt. Dan semua ini tidak akan berlaku tanpa terlebih dahulu muncul sifat khauf (takut) dan raja' (harapan) dalam diri orang yang menjalani tasawuf.
Orang yang tidak takut kepada Allah adalah orang yang tidak berakal. Begitu pula dengan orang yang tidak mempunyai harapan kepada Allah adalah orang yang bodoh. Bandar yang tidak mempunyai pengawal keamanan akan porak-poranda kehidupan konsumennya. Sama seperti kambing yang berada di padang rumput tanpa dijaga oleh seorang penggembala. la akan menjadi mangsa binatang buas. Agama adalah petunjuk. Orang yang beragama semestinya mengikuti petunjuk agamanya dan merasa takut bila melanggar perintahnya.
Tujuan si Salik ialah sampai kepada Al-Haq, yaitu Allah. Walaupun perjalanan yang akan ditempuhnnya jauh atau dekat, susah atau senang, si Salik akan terus mengarunginya hingga sampai ke tempat tujuan. Perjalanan yang ditempuh si Salik merupakan perjalanan ruhani, yakni perjalanan rahasia ke tempat rahasia (Sirr). Apabila ia tiba di pintu destinasinya, batin si Salik akan memohon izin untuk masuk ke dalamnya. Bila si tamu telah berada di pintu, ketuklah pintu itu hingga dibukakan oleh penghuninya. Sabarlah menunggu dan Insya Allah akhirnya pintu itu akan terbuka. Tamu yang tadinya menunggu di luar akhirnya masuk dan diterima oleh tuan rumah dengan penuh mesra dan rasa sayang . Itulah perumpamaan manusia yang mencari Allah, yang kemudian diterima oleh Allah dengan penuh kasih sayang.
Ahlullah adalah khalifah Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak takut kepada siapapun selain Allah dan mereka takut hanya kepada Allah. Karena itu mereka dititahkan menjadi khalifah Allah di muka dunia ini. Bintang yang cemerlang di dalam hatinya menjadi bulan, dan bulan berganti rnenjadi matahari, yang cahayanya tentu lebih terang- benderang. Sehingga akhirnya apa yang tersembunyi terlihat jelas, dan apa yang tampak pada batin akan membekas.
Orang yang tidak takut kepada Allah adalah orang yang tidak berakal. Begitu pula dengan orang yang tidak mempunyai harapan kepada Allah adalah orang yang bodoh. Bandar yang tidak mempunyai pengawal keamanan akan porak-poranda kehidupan konsumennya. Sama seperti kambing yang berada di padang rumput tanpa dijaga oleh seorang penggembala. la akan menjadi mangsa binatang buas. Agama adalah petunjuk. Orang yang beragama semestinya mengikuti petunjuk agamanya dan merasa takut bila melanggar perintahnya.
Tujuan si Salik ialah sampai kepada Al-Haq, yaitu Allah. Walaupun perjalanan yang akan ditempuhnnya jauh atau dekat, susah atau senang, si Salik akan terus mengarunginya hingga sampai ke tempat tujuan. Perjalanan yang ditempuh si Salik merupakan perjalanan ruhani, yakni perjalanan rahasia ke tempat rahasia (Sirr). Apabila ia tiba di pintu destinasinya, batin si Salik akan memohon izin untuk masuk ke dalamnya. Bila si tamu telah berada di pintu, ketuklah pintu itu hingga dibukakan oleh penghuninya. Sabarlah menunggu dan Insya Allah akhirnya pintu itu akan terbuka. Tamu yang tadinya menunggu di luar akhirnya masuk dan diterima oleh tuan rumah dengan penuh mesra dan rasa sayang . Itulah perumpamaan manusia yang mencari Allah, yang kemudian diterima oleh Allah dengan penuh kasih sayang.
Ahlullah adalah khalifah Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak takut kepada siapapun selain Allah dan mereka takut hanya kepada Allah. Karena itu mereka dititahkan menjadi khalifah Allah di muka dunia ini. Bintang yang cemerlang di dalam hatinya menjadi bulan, dan bulan berganti rnenjadi matahari, yang cahayanya tentu lebih terang- benderang. Sehingga akhirnya apa yang tersembunyi terlihat jelas, dan apa yang tampak pada batin akan membekas.
Friday, May 21, 2010 | 0 Comments
Subscribe to:
Posts (Atom)
blogville